Kisah aslinya saya dapat disini.
“Isn’t ironic that we work in the games industry to make games that
entertain people and yet doing this can be one the most stressful
things you can do?”
Reaksi saya waktu baca kalimat diatas : “Ugh. Kena banget. ._.”
Ini sebenarnya sebuah kenyataan yang tidak diketahui orang banyak, kecuali orang-orang yang memang berkecimpung di bidang game dev. Orang pikir orang yang bekerja di bidang game ini riang-selalu-sepanjang-hari karena berhadapan dengan game setiap hari. Sebenarnya tidak.
Banyak sekali beban dalam pekerjaan ini, deadline, client rese, pembajakan, bug, dan lain-lain. Banyak juga yang terjadi di industri ini, mulai dari perceraian karena salah satu pihak terlalu sibuk setiap hari demi menyelesaikan game, pegawai yang ngomel-ngomel tentang bosnya, bos-bos yang ngomel-ngomel tentang pegawainya, tingkat burn out yang tinggi, dan rotasi pegawai yang sangat cepat (banyak pemecatan dan perekrutan).
Salah satu kasus yang paling diingat orang tentang quality of life dalam game dev adalah EA spouse, curhat seorang perempuan yang tunangannya bekerja untuk EA. Kasus itu terjadi tahun 2004, semoga sekarang quality of life pekeja industri game dev sudah lebih terjamin. :D
Yoosh, fiiight… >.<
Enam Komentar Terakhir